PANTUN
PANTUN MELAYU KLASIK LAMA
Sirih dari Pulau Mutiara
Pemanis kata selamat datang
Awal Bismillah pembuka bicara
Tetak buluh panjang suluh
Mari jolok sarang penyengat
Angkat doa jari sepuluh
Doa minta biar selamat
Tuailah padi antara masak
Esok jangan layu-layuan
Intailah kami antara nampak
Esok jangan rindu-rinduan
Hendak dulang diberi dulang
Dulang berisi sagu mentah
Hendak pulang ku beri pulang
Tinggalkan pantun barang sepatah
SELOKA
Seloka Pak Kaduk
Aduhai malang Pak Kaduk,
Ayamnya menang kampung tergadai,
Ada nasi dicurahkan,
Awak pulang kebuluran,
Mudik menongkah surut,
Hilir menongkah pasang,
Ada isteri dibunuh,
Nyaris mati oleh tak makan,
Masa belayar kematian angin,
Sauh dilabuh bayu berpuput,
Ada rumah bertandang duduk.
SYAIR
64 tahun umurku sudah
Di anak kampung bersekolah rendah
Di Gunung Pasir desa bertuah
Dan belajar Jepun ketikanya memerintah
Tiga tahun di Singapura lamanya
Jepun kalah belajar ugama pula
Kemudian ke Kelantan Jamek Merbau namanya
Pengajaran Ugama di timba lima tahun di sana
Tegal semangat membakar dada
Politik tanahair berkehendakkan pemuda
Berjiwa radikal paling utama
Agar kemerdekaan segera terlaksana
Awal limapuluhan aku memasuki ???(politik?)
Menulis sajak, cerpen, rencana
Bekerja sendiri, memborong, membina
Untuk rumah kampung tugas istimewa
31/12/1958 memasuki rancangan
125 kelamin membuat perpindahan
Tempatnya jauh terperusuk di perbatasan
Di pinggir Pahang dan Negeri Sembilan
SLB namanya amat istimewa
Hati ku lapang setiap masa
Bekerja, menulis tanpa galangannya
Baru sekarang menaipnya pula